Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 07 Maret 2013

Kualitas Lele Unggul Butuh Perbaikan


Kualitas indukan lele di masyarakat turun bukan hanya karena faktor genetik, tapi juga manajemen pembenihan
Berbagai nama strain ikan lele yang diklaim sebagai jenis unggul telah lama jadi buah bibir. Ada yang dirilis oleh lembaga pemerintah, kelompok pembudidaya, maupun swasta. Semuanya berangkat dari satu titik, prihatin terhadap penurunan mutu genetik lele dumbo yang telah meraja sejak diintroduksi pada 1985.
Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Budidaya Dwika Herdikiawan menyatakan, lele dumbo (Clarias sp), yang merupakan hasil persilangan Clarias fuscus (asal Taiwan)dan Clarias gariepinus (asal Afrika) terus menerus dibenihkan secara mandiri di masyarakat sehingga mengalami penurunan mutu genetik. Akibatnya kualitas pertumbuhan dan konversi pakan atau Feed Conversion Ratio (FCR) memburuk.
Ternyata usaha untuk perbaikan genetik lele tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, namun ada juga masyarakat yang melakukannya secara mandiri. Dwika Herdikiawan menyebut lele Paiton (nama sebuah tempat di Jawa Timur) dan masamo yang dihasilkan oleh dua perusahaan pakan ikan ternama. “Tentu induk maupun benihnya didistribusikan ke dalam jaringan perusahaan itu sendiri,” katanya. Selain itu disebutnya juga nama lele phyton yang sempat ngetop di Pandeglang.
Butuh Benih Unggul
Di atas kertas, indukan dan benih lele strain unggulan sudah tersedia sudah, namun masih menyisakan pertanyaan sejauh mana tingkat penetrasi/persebaran lele jenis unggul di kalangan pembenih/UPR(Unit Pembenihan Rakyat) dan pembudidaya pembesaran lele konsumsi. 
Pelaku pembesaran lele mengalami kesulitan mendapatkan benih lele unggul, sebanding dengan kesulitan pembenih untuk memasok permintaan. Hal itu diungkapkan oleh Moh Syamsul Arifin – Pimpinan Pusat Pelatihan  Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) ”Raja Lele” Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. ”Produksi benih kami sangat kurang dibanding permintaan. Apalagi selama ’krisis’ benih  4 bulan terakhir,” tuturnya.
Produksi Benih
Selain faktor genetik, kualitas lele juga dipengaruhi oleh manajemen produksi benih, mulai dari pemilihan induk, pemijahan, pendederan, dan pembesaran larva. Faktor inilah, yang oleh Syamsul dinyatakan sering terlupakan, padahal pengaruhnya terhadap kualitas benih dan kualitasnya saat pembesaran sangat nyata. Syamsul melihat banyak proses yang salah di banyak UPR lele. ”Kami tidak melakukan perbaikan genetik. Tapi menggarap perbaikan manajemen pembenihannya. Hasilnya cukup signifikan terhadap mutu benih,” tuturnya.
Mengenai strategi mengatasi kebutuhan benih lele berkualitas, Akas Alamuddin perintis budidaya lele dari Kota Pare, Kediri – Jawa Timur berbagi cerita. Pemilik 620 petak kolam lele permanen ini membangun jejaring dengan pembenih yang dibinanya sejak 1992. Mulanya, Akas menemukan metode pemijahan lele dumbo secara alami pada 1987.
Uniknya lagi, Akas tak begitu peduli dengan kibaran nama-nama lele unggul yang belakangan muncul. “Saya tahu, semuanya sebenarnya lele dumbo. Maka yang penting adalah kita mengusahakan benih dari jaringan sendiri yang terkontrol semuanya. Itu sudah cukup untuk memproduksi benih yang bagus,” paparnya dengan nada berkobar. Ia mengajukan bukti, dengan benih itu FCR lelenya berada di kisaran 0,8 – 0,9.
Penurunan Genetik
Dwika Herdikiawan mengakui telah menangkap gejala penurunan mutu genetik lele dumbo, bahkan sangkuriang yang beredar di masyarakat. ”Kini ditengarai telah mengalami penurunan kualitas,” katanya ringkas. Maka sejak 3 tahun lalu Direkrektorat Perbenihan bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan Perikanan melakukan rekayasa genetik untuk menyempurnakan lagi menjadi lele sangkuriang jilid 2. 


Ditulis Oleh : kelompok tujuhplus // 08.03
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Followers

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service