Home » All posts
Jumat, 13 September 2013
Kolam untuk Ikan KOI
Agar Ikan Koi Sehat dan Cantik
Minggu, 18 Agustus 2013
Fauzan - Pemuda yang sukses berbisnis Ikan Lele
Berani mencoba alias tidak takut gagal adalah prinsip yang mengantarkan Fauzan Hangriawan sukses menjadi pengusaha lele sangkuriang di Jakarta. Dengan modal terbilang mini, pemilik Sylva Farm Bangun Bangsa ini berhasil mengembangkan bisnis lele hingga meraup omzet ratusan juta sebulan.
Pria kelahiran Pontianak 26 tahun silam ini memang doyan berbisnis sejak masih remaja. Ketika duduk di bangku SMP di Lampung, Fauzan kerap membantu orang tuanya berjualan kelapa dan beras. Lalu, sejak SMA, dia memberanikan diri membuka bisnis sendiri. Mulai dari berjualan sepatu, kuliner, hingga usaha percetakan, dilakoninya.
Meski bisnis itu tidak pernah bertahan lama, Fauzan tidak kapok mencoba. Pada 2009, pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Atmajaya, Jakarta, ini kembali mencoba bisnis baru yang belum pernah digeluti sebelumnya, yakni membudidayakan lele. "Pengetahuannya saya tentang budidaya lele sangat terbatas waktu itu. Tapi, saya bertekad mencobanya," ceritanya.
Bermodal Rp 1,5 juta dari kocek sendiri, dia membelanjakan 1.000 bibit lele dumbo, pakan lele, dan terpal untuk pembuatan kolam di belakang rumah. Lantaran, belum tahu banyak soal budidaya lele, tingkat kematian lele sangat besar. Ketika itu, hanya 40% bibit lele yang mampu bertahan.
Meski begitu, selang tiga bulan, Fauzan berhasil menikmati hasil panen pertamanya sebanyak 40 kg lele. Melihat hasil yang cukup menggiurkan, Fauzan memutuskan untuk serius menggeluti budidaya lele sangkuriang. Tak heran, dia belajar lebih mendalam soal budidaya lele.
Apalagi, kata Fauzan, kala itu, lele sangkuriang merupakan varietas yang unggul. Bahkan, hasil riset pemerintah yang ia baca menyebutkan, masa panen jenis lele ini lebih cepat, yakni hanya dua bulan. Daya tahan terhadap penyakit dan perubahan suhu pun lebih baik dibandingkan jenis lain, seperti lele dumbo.
Fauzan tidak sendiri mengembangkan bisnis lele sangkuriang. Selain mempekerjakan delapan karyawan, dia juga bermitra dengan 30 petani binaan di Jakarta dan Bogor melalui sistem kolam plasma. "Saya mendampingi mereka, sehingga hasil panen bisa maksimal,” ujarnya.
Kini, dalam sebulan, Sylva Farm bisa memproduksi 600.000 ekor bibit lele. Harga bibit ditentukan berdasar ukuran. Misal, bibit berukuran 5-6 centimeter (cm) dibanderol Rp 160 per bibit. Sementara, bibit ukuran 7-8 cm dijual Rp 200 per bibit.
Tak hanya itu, saban hari, Fauzan juga memproduksi 3- 4 kuintal lele berukuran siap konsumsi seharga Rp 17.000 per kilogram. Jadi, saban bulan, dia bisa mengantongi omzet sekitar Rp 200 juta. Pelanggannya tak hanya tersebar di wilayah Indonesia, tapi juga dari Bangladesh dan Malaysia.
Sumber : Kontan Co id
Fungsi dan kegunaaan garam pada Lele
larutan dalam tubuh ikan. Apabila ikan tidak mampu mengontrol proses osmosis yang terjadi, ikan yang bersangkutan akan mati., karena akan terjadi ketidak seimbangan konsentrasi larutan tubuh, yang akan berada diluar batas toleransinya.
Seperti disebutkan sebelumnya, garam akan membantu menyeimbangkan kembali proses osmoregulasidan memicu daya tahan tubuh ikan terhadap penyakit yang dideritanya.Minggu, 30 Juni 2013
Akhir yang Indah Pengantin Wanita
Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”
Kamis, 20 Juni 2013
Ikan Nilem yang telah menjadi Ikan primadona Tasikmalaya

Sayangnya, kondisi tersebut kini mengalami kendala. Desa Mekarja-ya, Kecamatan Padakembang, sebagai sentra terbesar nilem, paling terkena dampak penambangan pasir Gunung Galunggung.
Dengan kondisi tersebut, wajarlah Penyuluh Perikanan Lapangan, Ke-camatan Padakembang, Wiwik Hik-mawati, memiliki keinginan agar De-sa Mekarjaya di Padakembang menjadi desa ikan di Kabupaten Tasik-malaya. ASEP Dudung, pembudidaya ikan di Kampung Rancailat, Desa Mekarjaya Kecamatan Padakembang Kabupaten Tasikmalaya, merasakan betul betapa besar pengaruh nilem terhadap kehidupan keluarganya.
Ia pun mampu menghidupi sembilan orang tenaga kerja dengan upah rata-rata per bulan sebesar Rp 1.500.000, lebih besar di-banding Upah Minimum Kabupaten Tasikmalaya sebesar Rp 1.050.000.
Setiap bulannya, tidak kurang 4 ton ikan nilem berbagai ukuran berhasil dijual oleh Asep dengan omset sekitar Rp 100 juta.
Harga ikan yang habitat aslinya berada di perairan umum itu cenderung stabil. Bahkan sejak empat bulan lalu, terus naik. Di tingkat petani, untuk benih atau huripan mencapai Rp 32. 000, dan untuk konsumsi Rp 17.000 per kilogram.
Apa yang disampaikan Asep dirasakan pula oleh Burhan Mulyadi (33). Penyuluh Perikanan Swadaya yang juga aktivis lingkungan itu tak bisa meninggalkan budidaya nilem.
“Hasil produksi kerap menurun hingga 40 persen, bahkan kadang-kadang ikan mati karena limbah. Namun kami berupaya bertahan,” kata Burhan.
Lokasi kolam yang biasa dimanfaatkan Burhan untuk budidaya nilem, berada persis di bawah aliran Sungai Cikunir yang menjadi lokasi tambang pasir Galunggung.
“Tetenong”
Ya, nilem telah banyak mengubah kehidupan masyarakat di kawasan Gunung Galunggung. Daya tariknya luar biasa dalam memberikan kehidupan.
Ujang Suryana (40) warga Kampung Rancailat, Desa Mekarjaya, Kecamat-an Padakembang, merasakan betul hal itu. “Nilem te-lah menyelamatkan keluarga saya, saat ini kami tidak bisa lepas dari nilem,” kata ayah tiga anak tersebut.
Saat ini, penghasilan Ujang tak kurang dari Rp 1,5 juta per bulan. Jumlah tersebut terbilang bersih.






